Jejak Sejarah dalam Nyanyian Rakyat

Nyanyian rakyat dalam pandangan Jan Harold Brunvard merupakan salah satu genre atau bentuk folklore yang terdiri dari teks (kata-kata) dan lagu yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan mempunyai banyak varian.

Teks dan lagu itu merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Teks dalam nyanyian rakyat biasanya dinyanyikan dan jarang sekali hanya disajakkan saja. Akan tetapi teks yang sama tidak selalu harus dinyanyikan dengan lagu yang sama. Sebaliknya, lagu yang sama sering dipergunakan untuk menyanyikan beberapa teks nyanyian rakyat yang berbeda.

Ada beberapa perbedaan nyanyian rakyat dengan nyanyian pop dan klasik. Di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Bentuk dan isi nyanyian rakyat mudah berubah-ubah.
  2. Tempat peredaran nyanyian rakyat lebih luas, baik di kalangan yang melek huruf maupun yang buta huruf.
  3. Umur nyanyian rakyat lebih panjang daripada nyanyian pop.
  4. Penyebaran nyanyian rakyat dilakukan secara lisan, sehingga bersifat tradisi lisan dan dapat menimbulkan varian-varian.

Di dalam masyarakat, ada nyanyian rakyat yang sesungguhnya. Ada pula nyanyian rakyat yang tidak sesungguhnya. Nyanyian rakyat yang sesungguhnya harus mempunyai lirik dan lagu yang sama kuatnya. Sementara itu di dalam nyanyian rakyat yang tidak sesungguhnya, ada kalanya hanya liriknya yang menonjol dan ada kalanya hanya lagunya yang menonjol. Nyanyian rakyat tanpa lirik disebut juga wordless song. Dalam nyanyian rakyat seperti ini, suara penyanyinya hanya meniru suara alat musik tertentu. Nyanyian ini biasanya digunakan untuk mengiringi suatu tarian rakyat. Nyanyian rakyat tanpa lirik disebut juga near song . Di dalam nyanyian rakyat jenis ini, liriknya lebih menonjol daripada lagunya. Nyanyian rakyat yang tergolong jenis ini antara lain seruan yang dipergunakan oleh penjaga keliling.

Nyanyian rakyat mencakup; nyanyian rakyat yang berfungsi, nyanyian rakyat yang bersifat liris, dan nyanyian rakyat yang bersifat kisah.

Nyanyian rakyat yang berfungsi adalah nyanyian yang lirik maupun lagunya cocok dengan irama aktivitas khusus dalam kehidupan manusia. Contohnya nyanyian kelonan, seperti Nina Bobok; nyanyian kerja, seperti Rambate Rata; atau nyanyian permainan, seperti Baris Cerik Tempe.

Nyanyian rakyat yang bersifat liris terbagi dua, yakni yang sesungguhnya dan tidak sesungguhnya. Contoh nyanyian rakyat bersifat liris yang sesungguhnya adalah nyanyian-nyanyian yang liriknya mengungkapkan perasaan tanpa menceritakan suatu kisah yang bersambung, seperti nyanyian Betawi Cinta Manis. Sementara nyanyian rakyat liris yang bukan sesungguhnya menceritakan kisah yang bersambung. Yang termasuk jenis nyanyian ini adalah nyanyian rakyat yang bersifat kerohanian dan keagamaan lain, nyanyian rakyat yang memberi nasehat untuk berbuat baik, nyanyian rakyat mengenai pacaran dan pernikahan, nyanyian yang liriknya bertimbun banyak, nyanyian bayi dan anak-anak, nyanyian jenaka, dan nyanyian daerah dan mata pencaharian tertentu.

Nyanyian rakyat yang bersifat berkisah (narrative song) adalah nyanyian rakyat yang menceritakan suatu kisah. Yang termasuk nyanyian rakyat yang bersifat berkisah adalah balada dan epos.

Kronologi Sejarah Indonesia

Berikut ini merupakan sejarah Indonesia yang coba disajikan secara kronologis :

Pada tahun 400

Indonesia mulai diperkenalkan dengan kebudayaan India. Agama Hindu dan Budha mulai berkembang di Indonesia. Perkembangan ini langkah awal munculnya berbagai kerajaan yang bercorak Hindu atau Buddha. Di antaranya Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Mataram Kuno, Sriwijaya, Kediri, Singasari, Pajajaran, dan Majapahit.

Pada tahun 1300

Agama Islam masuk ke Indonesia melalui aktivitas perdagangan antara kaum pedagang Muslim dan penduduk setempat [walaupun ada studi lain yang menyebutkan bahwa agama Islam sudah masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke-7]. Pesatnya perkembangan agama Islam di Indonesia ditandai dengan munculnya beberapa kerajaan Islam seperti kerajaan Samudra Pasai dan kerajaan Demak.

Pada tahun 1511

Pasukan Portugis memimpin perdagangan melalui Selat Malaka dan mulai membuka pelabuhan dagang di Indonesia.

Pada tahun 1619

Belanda membangun Markas Besar VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) atau Serikat Dagang Belanda di Batavia (sekarang Jakarta).

Pada tahun 1808

Daendels menjadi gubernur jenderal di Indonesia. Ia mengerahkan tenaga rakyat untuk membangun jalan raya dari Anyer (Jawa Barat) ke Panarukan (Jawa Timur).

Pada tahun 1811

Pasukan Inggris menduduki daerah teritorial Belanda di Indonesia, Thomas Stamford Raffles memegang tampuk pemerintahan. Pada masanya, terjadi pemungutan pajak paksa dan kerja rodi.

Pada tahun 1816

Indonesia kembali dikuasai oleh Belanda. Pada masa ini kebijakan tanam paksa diterapkan dan UU Agraria diundangkan. Kebijakan dan perluasan pengaruh kolonial menimbulkan perlawanan rakyat di mana-mana.

Pada tahun 1908

Budi Utomo berdiri. Budi Utomo merupakan organisasi pergerakan kebangsaan yang didirikan oleh para pelajar di lingkungan Sekolah Dokter Jawa (Stovia) di Batavia. Mereka mengkampanyekan betapa pentingnya mengangkat dan memajukan Indonesia melalui bidang pendidikan. Berdirinya organisasi ini mengawali pergerakan nasional.

Pada tahun 1928

Kongres Pemuda yang menghasilkan dan menyepakati sumpah pemuda. Sumpah itu memuat tekad untuk mengakui Indonesia sebagai identitas nasional mereka. Pada peristiwa ini, W.R. Supratman memainkan lagu ciptaannya yang berjudul Indonesia Raya dengan iringan biola.

Pada tahun 1942

Jepang menduduki Indonesia selama Perang Dunia II. Selama pemerintahan Jepang, kelaparan, kemiskinan, dan penyakit ditemukan di mana-mana di bawah propaganda Gerakan 3A (Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia dan Jepang Pemimpin Asia).

Pada tahun 1945

Soekarno dan Muhammad Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Belanda menolak mengakui deklarasi itu. Pasukan sekutu datang ke Indonesia dan pertempuran di Surabaya dan Ambarawa pun terjadi.

Pada tahun 1947

Agresi Militer Belanda I pun terjadi. Peristiwa ini diawali dengan konflik antara Belanda dan Indonesia karena perbedaan penafsiran atas isi Linggarjati.

Pada tahun 1948

Agresi Militer Belanda II di mana Belanda menyerang dan menduduki Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia pada saat itu. Situasi ini mendorong pembentukan pemerintahan darurat Republik Indonesia di Bukit Tinggi.

Pada tahun 1949

Penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar. Berdasarkan persetujuan ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia berubah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS), yang terdiri dari 16 negara bagian. Konstitusi RIS diberlakukan.

Pada tahun 1950

Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mulai berlaku UUDS 1950 menggantikan Kontitusi RIS.

Pada tahun 1959

Presiden Soekarno mengumumkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Salah satu isinya adalah kembali ke UUD 1945. Bersamaan dengan itu, demokrasi terpimpin mulai berlaku. Pada masa ini, terjadi sentralisasi kekuasaan dan penyimpangan politik luar negeri bebas dan aktif.

Pada tahun 1968

Soeharto menjadi Presiden. Masa pemerintahan Orde Baru mulai berjalan menggantikan pemerintahan Orde Lama. Misinya adalah mengoreksi secara total penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintahan Orde Lama.

Pada tahun 1998

Terjadi peristiwa reformasi. Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah demonstrasi yang menuntut reformasi total terjadi di berbagai daerah. Hal ini terjadi karena misi pemerintahan Orde Baru untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 hanya slogan belaka. Korupsi, kolusi, dan nepotisme terjadi di sana-sini. Gerakan reformasi ditandai dengan berbagi perubahan, termasuk di dalam pemerintahan BJ. Habibie, Abdurrahman Wahis, dan Megawati Soekarno Putri secara bergantian menduduki kursi kepresidenan. Setelah pemilihan presiden pertama secara langsung diadakan, Susilo Bambang Yudhoyono naik menjadi presiden Republik Indonesia ke-6.

Wangsa Sailendra di Jawa dan di Sumatra dari Tahun 813 sampai Tahun 863 M

Huruf Palawa

Huruf Palawa

Di Jawa, sumber-sumber Cina yang menyebut untuk tahun 813 atau 815, dan tahun 818 M, utusan-utusan terakhir dari Ho-ling, menyatakan utusan-utusan pada tahun 820 dan 831 M dikirim oleh She-p’o. Hendaknya diingat bahwa She-p’o, yang pada abad ke-5 M menunjuk kepada seluruh atau sebagian Pulau Jawa, pada abad ke-8 M adalah nama ibu kota Ho-ling yang ditinggalkan antara tahun 742 dan 755 M untuk P’o-lu-chia-ssu yang letaknya lebih ke timur. Perpindahan ibu kota itu disebabkan oleh munculnya wangsa Sailendra Buddhis ke atas tahta di Jawa Tengah. Bahwa She-p’o tampil kembali pada tahun 820 M, dapat ditafsirkan atau sebagai penyatuan bagian tengah dan timur di bawah wangsa Sailendra , atau -yang jauh lebih masuk akal- sebagai berkuasanya kembali pangeran-pangeran beraliran Siva yang tadinya telah mengungsi ke timur, di bagian tengah pulau itu.

Hal yang diketahui dari pengganti-pengganti Panangkaran, pendiri Kalasan, tidak lebih dari nama-nama mereka. Prasasti dari Balitung tahun 907 M yang sudah disebut mendaftarkan tanpa memberitahukan hubungan kekerabatannya para maharaja Panunggalan, Warak dan Garung yang ada prasastinya dari tahun 819 M dan yang barangkali menjadi agamawan, suatu hal yang menjelaskan namanya Patapan dalam sebuah prasasti bertahun 850 M.

Raja yang memerintah pada tahun 824 M ialah Samaratunga yang tidak disebut dalam daftar prasasti tahun 907 M, oleh karena ia salah seorang anggota wangsa Sailendra atasan dari dinasti Snjaya yang pewarisnya adalah Balitung. Barangkali, kalau melihat kemiripan nama-nama mereka, ia harus diidentifikasi dengan Samaragrawira, putra raja Sailendra dari Jawa yang disebut dalam prasasti Nalanda.

Raja sebelum yang terakhir yang disebut dalam prasasti tahun 907 M adalah Pikatan yang ada prasastinya dari tahun 850 M. Menurut J.G. de Casparis, ia barangkali mulai memerintah kira-kira tahun 842 M. Rupanya ia juga dikenal dengan nama Kumbhayoni dan Jatiningrat. Ia menikahi Putri Pramodawardhani, yaitu anak raja Sailendra Samaratunga, suami Putri Tara dari Sriwijaya. Yang menonjol dalam pemerintahan Pikatan ialah persengketaannya dengan iparnya Balaputra, “anak bungsu” Samaragrawira alias Samaratunga. Kemenangannya atas Balaputra pada tahun 856 M kelihatannya menjadi sebab yang mendorong keberangkatan Balaputra ke Sriwijaya, negeri ibunya, Tara. Menurut prasasti Naanda (kira-kira dari tahun 860 M) pada waktu itu Sriwijaya diperintah oleh “anak bungsu” dari Samaragrawira. Maka lebih tepat dikatakan seorang raja Sailendra yang memerintah di Jawa daripada seorang raja Sailendra dari Sumatra -seperti yang akan terjadi kemudian- yang dimaksudkan dalam catatan paling kuno mengenai Maharaja dari Zabag (Javaka) dalam karya seorang penulis Arab (Ibn Khordadzbeh).

Relief candi mengisahkan tentang wangsa Sailendra

Relief candi mengisahkan tentang wangsa Sailendra

Namun kemerosotan kekuasaan wangsa Sailendra di bagian tengah Jawa, yang diiringi pulihnya kultus-kultus Hindu yang kelihatannya dalam sebuah prasasti di sekitar Prambanan (863 M), berakibat bertambah kukuhnya kekuasaan mereka di Sumatra. Hal ini tampak dalam sumber-sumber Arab dan Persia: memang sudah pasti bahwa pada abad ke-10 M, Zabag sama dengan San-fo-ch’i dari sumber Cina, artinya dengan kerajaan Sriwijaya di Sumatra.

Hal yang diketahui belakangan ini, kira-kira pada pertengahan abad ke-9 M, hanyalah bahwa “Maharaja dari Suvarnadvida” adalah seorang “anak bungsu” (Balaputra) raja dari Jawa Samaragrawira (Samaratunga), dan seorang cucu dari raja Sailendra yang disebut pada sisi kedua batu bertulis di Nakhon Si Thammarat (Ligor). Melalui ibunya Tara, ia adalah cucu dari Raja Dharmasetu yang pernah diidentifikasi dengan Dharmapala dari dinasti Pala di Benggala, tetapi jauh lebih besar kemungkinannya ia raja Sriwijaya, pemesan pendirian bangunan yang telah mendorong diukirnya prasasti pada sisi pertama batu bertulis di Nakhon Si Thammarat (Ligor). Balaputra itu mungkin sekali raja Sailendra yang pertama di Sriwijaya. Ia menyuruh bangunkan sebuah biara di India, persisnya di Nalanda. Kepada biara itu Raja Devapala, dalam tahun ke-39 dari pemerintahannya (kira-kira tahun 860 M), menyerahkan beberapa desa.