Cara Dunia Bekerja

Vila besar itu gelap dan tertutup, seakan – akan sedang ada kematian; jeritan camar laut bagai erangan orang yang sedang berkabung.

Musa berkata, “Kudengar dia membayar sepuluh juta untuk vila itu.”

Attilius menanggapi pernyataan itu dengan dengusan, tanpa mengalihkan pandangan dari vila tersebut. “Yah, dia tidak ada di sana sekarang.”

“Ampliatus? Tentu saja tidak. Dia tidak pernah ada di sana. Dia punya banyak rumah di banyak tempat. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di Pompeii.”

“Pompeii?”

Kini sang insinyur berbalik. Musa sedang duduk bersila, punggung disandarkan ke peralatan, makan buah ara. Sepertinya dia selalu makan. Istrinya melepaskannya bekerja setiap hari dengan makanan yang cukup untuk enam orang. Sisa buah itu dijejalkan ke dalam mulutnya, lalu dia menjilati jemarinya. “Dari sanalah dia berasal. Di Pompeii dia mendulang kekayaan.”

“Tapi dia dilahirkan sebagai budak.”

“Memang seperti itu keadaannya sekarang,” ujar Musa pahit. “Budak makan dari piring perak, sementara warga yang jujur dan dilahirkan merdeka bekerja dari fajar sampai malam demi hasil yang tidak seberapa.”

Orang – orang lain sedang duduk di buritan, berkumpul di sekeliling Corax, yang menunduk dan berbicara pelan –mengungkapkan cerita yang memerlukan gerak tangan yang heboh sambil menggeleng – geleng. Attilius menduga dia sedang menceritakan apa yang terjadi di rumah Pliny tadi malam.

Musa membuka kantong air dan menenggak isinya, kemudian mengelap bibir kantong air itu dan menawarkannya kepada Attilius. Sang insinyur menerimanya, kemudian berjongkok di sampingnya. Air itu terasa agak pahit. Belerang. Dia menelannya sedikit, hanya untuk sopan santun, bukan karena haus, mengelap bibir kantong itu lagi sebelum mengembalikannya.

“Kau benar, Musa,” ujarnya hati – hati. “Berapa usia Ampliatus? Belum lima puluh tahun. Namun dia telah naik derajat dari budak menjadi penguasa Vila Hortensia dalam waktu yang kita butuhkan untuk mengumpulkan cukup banyak uang untuk membeli apartemen bobrok. Bagaimana orang bisa mendapat uang sebanyak itu dengan cara jujur?”

“Jutawan yang jujur? Sama sekali tak ada! Menurut kabar yang kudengar,” ujar Musa, melirik ke sekelilingnya, lalu melanjutkan dengan berbisik, “dia mulai mengumpulkan uang tepat setelah gempa bumi. Dia mendapatkan kebebasan berdasarkan isi surat wasiat Popidius tua. Ampliatus berwajah tampan dan tidak ada yang tak bersedia dia lakukan untuk majikannya. Pria tua itu mesum –kurasa dia bahkan tak bisa mendiamkan anjing lewat begitu saja. Ampliatus juga mengurus istri majikannya, kalau kau mengerti maksudku.” Musa mengedipkan mata. “Pokoknya, Ampliatus mendapatkan kebebasan dan sedikit uang dari suatu tempat, kemudian Jupiter memutuskan untuk membuat sedikit guncangan. Itu terjadi pada masa pemerintahan Nero. Gempa itu benar – benar dahsyat –paling buruk sepanjang ingatanku. Aku sedang di Nola, dan kupikir aku akan menemui ajal.” Dia mencium jimat keberuntungannya –penis lengkap dengan buah zakarnya, terbuat dari perunggu, digantungkan dengan tali kulit di lehernya. “Tapi kau tahu apa yang mereka katakan: kesialan satu orang adalah keberuntungan bagi orang lain. Pompeii mengalami kerusakan paling parah. Tetapi saat semua orang pergi dari sana, mengatakan kota itu sudah hancur, Ampliatus berkeliling membeli reruntuhan. Mendapatkan vila – vila besar dengan harga sangat murah, memperbaikinya, membaginya menjadi tiga atau empat rumah, kemudian menjualnya dengan harga mahal.”

 

Dicukil dari novel “POMPEII” (2010 : 105 – 107)

Karya Robert Harris

Penerbit Gramedia Pustaka Utama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s