Pesantren, Sistem Pendidikan yang “Istimewa”

Foto : google

Sekolah adalah jalan menuju kesuksesan. Itulah anggapan yang berkembang. Sehingga banyak orang yang menganggap bahwa sekolah adalah kebutuhan pokok yang merupakan harga mati bagi dalam menentukan masa depan seseorang. Banyak orangtua yang dihinggapi kecemasan jika sang anak mogok sekolah atau memutuskan berhenti sekolah.

Namun ada pula yang beranggapan bahwa sekolah adalah candu. Begitu dimasuki, seseorang tidak dapat terlepas begitu saja dari lembaga pendidikan tersebut. Alhasil, pendidikan yang seharusnya membentuk karakter manusia untuk bekal menghadapi tantangan zaman, justru malah membelenggu kebebasan dan otonomi pribadinya.

Realitas bahwa sekolah menjadi tiket utama menuju gerbang kesuksesan (dalam hal materi) tidak 100% benar. Masa depan itu terbuka, tidak terbatas. Buya Hamka, hanya mengecap pendidikan sampai kelas 2 SD, Abdullah Gymnastiar meninggalkan kuliah tekniknya, Bill Gates meninggalkan Harvard, Bob Sadino hanya tamat SMA, nyatanya mereka bisa meraih sukses, meskipun tanpa melalui jenjang strata tertentu.

Pendidikan tak selalu menjamin kesuksesan. Kesuksesan adalah milik semua orang. Kesuksesan dapat diraih dengan kemauan, niat, keberanian, kerja keras, dan doa. Sejatinya, ilmu tak hanya direguk dari sekolah dan buku saja. Ilmu didapat juga dari kehidupan, alam, jalanan, dan dimana saja.

Menurut Prof. Dr. Kemala Motik Gafur, rektor Universitas Indonesia Esa Unggul, dalam sebuah artikel di majalah Paras edisi Juni 2006, pendidikan sangatlah penting. Melalui pendidikan, kita dapat menjadi sosok lain yang bermartabat, pendidikan mengubah pola pikir dan akan berbeda sekali apabila kita tidak bersekolah. Namun pendidikan bukanlah harga mati yang menentukan keberhasilan seseorang seperti cara bergaul, integritas, niat, dan kemauan untuk berbuat sesuatu.

Bob Sadino, pengusaha pemilik Kem Chick, PT Kem Food, PT Kem Farm, dalam penuturannya di majalah Paras edisi Juni 2006, mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia itu sangat formal. Sistem yang diterapkan hanya “mengalihkan ilmu” dari kepala pendidik ke murid-muridnya. Padahal si pendidik juga harus bisa memeragakan, menuntun, dan menjadi seseorang yang bisa dijadikan contoh. Kelemahan dari jalur formal adalah mereka belajar untuk mengejar sesuatu, seperti hanya mengejar sehelai ijazah. Itu menjadi sebuah keprihatinan. Mereka belajar bukan untuk menerapkan ilmu untuk kesejahteraan masyarakat, tapi untuk mengejar yang dia inginkan. Pendidikan yang ideal adalah harus ada penerapannya bagi masyarakat. Tidak ada gunanya sebuah titel jika tidak berguna buat masyarakat.

Pesantren, Jalur Pendidikan Non Formal?

Indonesia sebagai negara bermayoritas penduduk muslim, sebenarnya punya sistem pendidikan yang khas selain pendidikan formal SD, SMP, SMA, yaitu pesantren. Sayangnya, banyak orang yang menganggap pendidikan jalur Pesantren bukanlah sistem pendidikan formal. Dahulu, lulusan pesantren yang ingin melanjutkan ke universitas, harus menyertakan ijazah SMA, otomatis para lulusan pesantren itu harus mengejar Paket C untuk mendapatkan ijazah SMA. Untungnya, saat ini universitas-universitas di Indonesia tidak memberlakukan aturan itu lagi karena saat ini status pesantren disamakan dengan jenjang pendidikan formal setara SD, SMP, SMA.

Sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren, saya merasa pesantren adalah sistem pendidikan yang “istimewa”. Di pesantren, kita tidak hanya belajar mata pelajaran umum seperti matematika, KWN, dll, namun dibekali juga dengan mata pelajaran keagamaan seperti Mustholah Hadits (meneliti periwayatan hadits, apakah itu shohih atau dho’if, melalui para sanadnya) Fiqih (tata-cara hukum Islam seperti cara wudhu, sholat, zakat, shaum, dll), Ushul Fiqih (hukum Islam, seperti Undang-undang dsb) Faraidh (ilmu pembagian ahli waris), Sejarah Kebudayaan Islam, Nahwu Shorof (ilmu tata bahasa Arab, seperti Grammar dalam bahasa Inggris), dll. Juga di pesantren, selain belajar bahasa Arab dan Inggris di kelas, kami juga diwajibkan untuk bicara bahasa Arab dan Inggris di lingkungan sehari-hari. Karena saya pesantren di Fullday Boarding School, saya harus bicara bahasa Arab-Inggris dengan sesama santri di kamar mandi, tempat makan, kamar tidur, ruang kelas, kantin, dll. Diberlakukan English Week dan Arabic Week secara bergiliran di setiap minggunya. Yang ketahuan keceplosan bicara bahasa Indonesia atau bahasa daerah, maka akan dilaporkan oleh yang mendengarnya ke ro’is atau pimpinan kelas, dan yang bersangkutan akan diberi sanksi berupa menulis beberapa kosa kata / vocabulary bahasa Arab / Inggris yang ia ketahui tanpa melihat teks / buku yang kemudian dikumpulkan pada ro’is tersebut. Sanksinya sama sekali bukan kekerasan, malah mendidik para santri supaya meningkatkan kemampuan berbahasanya.

Pesantren setara dengan pendidikan formal lengkap. Madrasah Ibtidaiyah, setara SD selama 6 tahun, Tsanawiyyah, setara SMP selama 3 tahun, dan Mu’allimin / Aliyah setara SMA selama 3 tahun. Di pesantren saya dulu, calon santri yang berasal dari SMP jika ingin melanjutkan ke Mu’allimin harus mengikuti program Diniyyah Wustho selama 1 tahun yang berarti program “pengenalan” dengan situasi pembelajaran pesantren yang sama sekali berbeda dengan SMP. Kecuali yang sebelumnya sekolah di Tsanawiyyah, jika ingin melanjutkan ke Mu’allimin, maka langsung masuk saja tidak perlu ke Diniyyah Wustho dulu.

Di pesantren, khususnya yang menerapkan Fullday School bagi seluruh santrinya, mau tidak mau kita harus tinggal bersama bernaung di satu atap pesantren, bersamaan dengan ratusan santri lainnya. Dari situlah kita belajar bersosialisasi dengan sesama manusia. Penghuni pesantren berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negri dengan beragam budaya, karakter, dan bahasa yang berbeda, namun hal itu tidak menjadikan hambatan dalam pergaulan. Justru di pesantren, tali persaudaraan terjalin erat. Belajar bersama, tidur di tempat yang sama, di lingkungan bersama, bahkan makan pun sering sepiring berdua atau bahkan makan bersama dalam satu piring besar. Itu semua bukan jorok, bukan karena para santri miskin ga punya piring, malah kebanyakan yang sekolah di pesantren orang berada, tapi itulah ciri khas pesantren. Pesantren menerapkan didikan yang egaliter bagi para santrinya. Kebersamaan merupakan nomor wahid. Sehingga tidak ada perbedaan si miskin dan si kaya. Tidak ada yang namanya bullying, membeda-bedakan seseorang dari status sosial, seperti kasus-kasus yang sering kita temui di sekolah-sekolah formal.

Pesantren mengajarkan beragam ilmu peri kehidupan. Yang sebenarnya merupakan bekal terpenting untuk menjalani kehidupan di masa depan. Di pesantren kita belajar tata krama kepada yang lebih tua, kebersamaan dengan teman-teman seangkatan, berbagi ilmu dan mencontoh akhlak para Asatidz dan Asatidzah (guru laki-laki dan guru perempuan), saling menghargai, saling menolong dan menasehati. Kegiatan-kegiatan penunjang lain juga mendukung pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kedisiplinan yang kuat. Seperti kegiatan Muhadhoroh (khutbah sendiri-sendiri menggunakan bhs. Arab/Inggris secara bergiliran sesuai dengan urutan kelompok yang sudah ditentukan setiap Kamis malam), Muhasabah dan tadabbur alam setiap Jum’at pagi, juga pada momen-momen tertentu sering diadakan English/Arabic Speech Contest dan Malam Seni Santri. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Ummahatul Ghad/Rijalul Ghad (OSIS).

Jadi, masihkah beranggapan bahwa pesantren adalah jalur pendidikan non formal? Pendidikan yang berbasiskan Islam sepertinya sangat dibutuhkan oleh generasi-generasi muda sekarang. Selain menguasai beragam studi baik yang umum maupun keislaman, penguasaan bahasa juga penting untuk masa depan, terlebih lagi, pembentukan karakter dan jati diri. Itulah keutamaan dan keunggulan pesantren. Membentuk generasi cerdas dan berakhlak mulia. Generasi muda sebagai calon pemimpin harus memiliki dasar-dasar yang kokoh untuk menopang kehidupannya sendiri supaya bisa menjadi pemimpin yang teguh pendirian, istiqomah, dan berwawasan luas serta berpandangan terbuka terhadap dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s