Euphoria Ramadan di Indonesia

Foto : google

Ramadan akan segera berakhir, saat ini telah memasuki 10 hari terakhir Ramadan. Namun euphoria Ramadan di tanah air nampaknya belum akan berhenti hingga hari raya Idul Fitri tiba. Hal ini menjadi keunikan tersendiri bagi negara kita ini. Betapa tidak, suasana kemeriahan itu tak kunjung surut. Awal menyambut Ramadan, rona baru hiruk pikuk kehidupan mulai terbentuk.

Dimulai dari bertebarannya media pendukung Ramadan, seperti spanduk, kalender, dan iklan-iklan di berbagai media yang bertuliskan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”. Biasanya hal semacam ini muncul sekitar 1 minggu sebelum Ramadan. Artinya Ramadan adalah bulan istimewa yang selalu diingat dan ditunggu-tunggu oleh umat muslim di tanah air karena memberikan kesan indah tersendiri di hati semua umat muslim.

Tak sampai disitu, semua semesta media mendukung kemeriahan hadirnya bulan Ramadan, dengan menerbitkan konten-konten seputar ibadah puasa, shalat, zakat, dan berbagai kajian keislaman lainnya. Televisi lebih-lebih, sinetron maupun ftv bertema religi menjadi andalan untuk turut memeriahkan rona Ramadan, dan mendapat sambutan baik pula dari para pemirsa, keuntungan pun diraih, rating meningkat tajam, lebih istimewa dari bulan-bulan lainnya. Belum lagi acara-acara yang ditayangkan saat sahur, yang diperuntukkan untuk menemani pemirsa saat santap sahur. Hampir semua stasiun TV swasta di Indonesia, membuat acara-acara sejenis yang selain untuk menghibur pemirsa selama bulan Ramadan, juga untuk meningkatkan eksistensi stasiun televisi yang bersangkutan dengan merebut hati pemirsa di rumah.

Selain media, industri lain yang menuai keuntungan selama bulan Ramadan adalah perdagangan. Ramadan membuka peluang bagi mereka yang sehari-harinya tidak bekerja, atau bekerja tapi penghasilannya pas-pasan, untuk membuka usaha sendiri dengan membuat takjil, atau makanan manis untuk berbuka puasa. Tak heran banyak “pengusaha dadakan” bermunculan. Disebut pengusaha dadakan karena biasanya para penjual takjil itu hanya bekerja pada bulan Ramadan saja untuk membuat berbagai macam hidangan takjil. Namun ada pula yang memang sejak awal bergerak di bidang usaha kuliner, dan terus kebanjiran order di bulan puasa ini. Alhasil, keuntungan pun berlipat ganda.

Takjil yang paling umum dan sangat familiar di  Indonesia adalah kolak dan candil. Kolak adalah makanan yang berbahan utama pisang, ubi, atau labu. Bahan-bahan dasar itu dipotong-potong dan dimasak dengan air yang dicampur gula merah dan diberi santan sesuai selera. Tidak menutup kemungkinan makanan lain seperti es cendol, bubur sumsum, dan lain-lain sesuai dengan kebiasaan daerahnya masing-masing. Karena setiap daerah di Indonesia memiliki takjil khas tersendiri.

Lain kuliner lain pula dengan fashion. Keuntungan besar juga didapat oleh pengusaha sandang. Baik itu tekstil maupun pakaian jadi. Baju-baju muslim seperti gamis, mukena, sarung, sajadah, baju koko, dan kerudung, diserbu para pembeli. Tiap tahunnya selalu saja ada model-model terkini. Bahkan ada nama-nama khusus untuk aneka produk yang dijual. Kebanyakan namanya diambil dari nama artis yang kesohor di Indonesia. Misalnya ada jilbab Marshanda, jilbab Manohara, baju koko Uje (Ust. Jefry Al-Bukhary), kaftan Syahrini, dll. Ada juga yang nama produknya diambil dari nama-nama negara Timur Tengah, misalnya untu ciput (inner atau dalaman kerudung, digunakan oleh para pemakai jilbab untuk merapikan rambut, agar rambut tidak berantakan atau keluar-keluar) ada ciput Arab, ciput Ninja, mukena Maroko, dll. Tentunya barang-barang tersebut sangat diminati dan diserbu para pembeli.

Menjelang Idul Fitri lebih meriah lagi. Di Indonesia ada budaya kalau setiap Idul Fitri pasti membeli pakaian baru. Walaupun tidak wajib, namun budaya ini mengakar bagi seluruh umat Islam, bahwa jika Idul Fitri tiba, maka belilah pakaian baru. Mungkin konteksnya adalah jika dikaitkan dengan makna Idul Fitri itu sendiri, dimana pada hari itu, manusia kembali kepada fitrah, selayaknya manusia yang baru dilahirkan, yang kertas amalannya kembali kosong dan akan diisi dengan berbagai amalan lagi sampai tahun depan. Mungkin terbentuklah pemaknaan “manusia baru” yang kembali putih bersih, maka pakaian yang dikenakan pun harus baru pula, karena baru identik dengan bersih, belum pernah dipakai dan benar-benar fresh. Namun sebaiknya pembaharuan itu janganlah ditampakkan dari pakaian saja, namun lebih kepada pembaharuan hati dan pikiran untuk beramal sholeh dan merubah diri agar lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Adalah tindakan yang kurang bijaksana lagi jika ajang pakai baju baru saat Idul Fitri itu dijadikan ajang pamer dan fashion show. Yang timbul bukannya kemaslahatan bagi sesama umat namun malah lebih banyak madhorotnya, bukan tidak mungkin akan timbul rasa iri dan dengki karena dari pakaian itu salah satunya akan menunjukkan status sosial seseorang. Maka janganlah berlebihan, apalagi saat hari raya yang mulia seperti Idul Fitri yang hakikatnya adalah hari kemenangan bagi umat muslim. Kemenangan dari rasa iri dengki, kemenangan dari godaan setan, kemenangan dari 30 hari berpuasa melatih kesabaran dengan menahan lapar dan dahaga juga menahan hawa nafsu.

Hidangan-hidangan khas Idul Fitri pun tak ketinggalan. Ketupat dan opor ayam menjadi hidangan utama di setiap meja makan di rumah-rumah. Sebagian ada gulai kambing juga gulai sapi. Hmmmm nikmatnya! Idul Fitri menjadi ajang silaturahmi antar keluarga yang mungkin sudah terpisah jauh. Untuk melepas kangen, maka saat Idul Fitrilah tepatnya. Maka ada istilah mudik. Mudik adalah kegiatan bagi orang-orang yang tinggal mengadu nasib ke daerah lain untuk pulang ke kampung halaman dimana ia dilahirkan. Bagi yang dari lahir sampai berkeluarga tetap tinggal di tempat asalnya, maka orang itu tidak punya kampung halaman dan tidak merasakan meriahnya mudik. Hmm sayang sekali. Itulah perbedaan Indonesia dengan negara-negara lain. Di Indonesia, kekeluargaan dan kebersamaan sangatlah penting. Mungkin sudah diwariskan dari leluhur atau apanya saya tidak tahu pasti. Yang jelas, menurut orang-orang Indonesia, sifat-sifat individualistis adalah sifat yang kurang baik. Individualistis masih dipandang sebagai sifat yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Di Indonesia, sifat peduli, saling membantu, dan kekeluargaan menjadi hal utama yang harus dilakukan kepada seluruh masyarakatnya.

Itulah serentetan kemeriahan Ramadan di Indonesia. Selain disibukkan oleh ibadah-ibadah seperti puasa, tarawih, tadarus Al-Qur’an, sedekah, i’tikaf yang pada hakikatnya memang harus ditingkatkan dan diperbaiki, bulan Ramadan juga disibukkan dengan berbagai kegiatan-kegiatan tadi yang menjadi ciri khas Indonesia. Itulah salah satunya yang menjadi alasan bahwa Ramadan di Indonesia menjadi sesuatu yang akan selalu dirindukan dan dikenang oleh umat muslim Indonesia.

Ramadan Mubarak.🙂

*untuk info lebih lanjut ttg makanan-makanan tadi, bisa dilihat di kategori kuliner.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s