Jejak Sejarah dalam Mitologi

Mitologi adalah ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan dewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan. Bentuk sastra itu bisa berupa cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Cerita seperti ini disebut mite. Yang menjadi tokoh dalam mite adalah para dewa atau makhluk setengah dewa.

Pada umumnya mite menceritakan kisah tentang terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, dan gejala alam. Selain itu, mite antara lain juga mengisahkan tentang petualangan para dewa, hubungan kekerabatan mereka, dan kisah perang mereka.

Mite sarat dengan peristiwa keajaiban yang jauh dari fakta sejarah. Oleh karena itu, seorang ahli antropologi harus mampu menginterpretasikan peristiwa-peristiwa itu. Dia harus mencari arti di balik peristiwa itu dan indikasi-indikasi tertentu yang mengarah pada fakta sejarah. Mite dapat hidup secara lisan, dan kalau suku bangsa yang bersangkutan mengenal tulisan tradisional, dapat juga secara tertulis. Dengan mite yang hidup secara lisan, seorang peneliti harus mengumpulkan bahan dengan merekam mite itu dari mulut tokoh penduduk tertentu yang mengenal mite tersebut.

Di Indonesia, berdasarkan asal-usulnya, ada dua macam mite yang tersebar di kalangan masyarakat. Yang pertama adalah mite yang asli berasal dari Indonesia sendiri. Mite Indonesia biasanya mengisahkan tentang terjadinya alam semesta, susunan para dewa, dunia dewata, terjadinya manusia pertama, dan tokoh pembawa kebudayaan, serta terjadinya makanan pokok seperti beras. Contohnya, Dewi Sri, Nyai Roro Kidul, Joko Tarub, dan Dewi Nawangwulan. Yang kedua adalah mite yang berasal dari luar negeri, terutama dari India, Arab, dan negara sekitar Laut Tengah. Mite yang berasal dari luar negeri biasanya sudah diolah, sehingga mite itu tidak lagi terasa asing. Contohnya Ramayana, Mahabarata, Oedipus, dan Romulus.

Ada banyak mite yang hampir sama di belahan dunia. Misalnya di dalam mitologi bangsa-bangsa di dunia, tanah liat adalah bahan yang paling umum digunakan Sang Pencipta dalam menciptakan manusia. Hal ini dianut oleh berbagai pemeluk agama di dunia, seperti Islam, Kristen, Yahudi, dan Hindu. Hal yang sama juga diakui antara lain oleh bangsa Yunani, Irlandia, Siberia, Cina Polinesia, Indonesia, Australia, Eskimo, Indian Amerika Utara, dan Amerika Selatan, termasuk juga orang Aztec. Persamaan ini hanya dapat dijelaskan dengan dua kemungkinan berikut :

  1. Monogenesis yakni suatu penemuan yang diikuti oleh proses difusi atau penyebaran. Teori-teori yang tergolong monogenesis antara lain adalah Teori Grimm bersaudara, teori mitologi matahari Max Muller dan teori Indianist, Theodore Benfey. Menurut Teori Grimm, dongeng yang mereka kumpulkan di Jerman sebenarnya adalah mite yang sudah rusak (broken down myth), yang berasal dari rumpun Indo-Eropa kuno. Dalam pandangan teori mitologi matahari Max Muller, mite sesungguhnya adalah kisah pengulangan kejadian pagi dan malam. Penganut teori ini beranggapan bahwa semua mite di dunia berasal dari India. Hal yang sama juga dikatakan oleh Indianist Theory, yang dipelopori oleh Theodore Benfey. Indianist Theory beranggapan bahwa semua dongeng Eropa berasal dari India. Kemungkinan monogenesis terlihat pada kenyataan bahwa banyak mite Jawa yang berasal dari epos Mahabrata atau Ramayana.
  2. Poligenesis yakni sebagai akibat penemuan-penemuan sendiri atau yang sejajar dari motif-motif cerita yang sama, di tempat-tempat yang berlainan serta dalam masa yang berlainan maupun yang bersamaan. Teori-teori yang termasuk dalam golongan poligenesis antara lain teori survival kebudayaan, teori psikoanalisa dan teori euherisme. Teori survival kebudayaan mempunyai paham bahwa setiap kebudayaan di dunia ini mempunyai kemampuan untuk berevolusi. Itulah sebabnya setiap folk mampu melahirkan unsur-unsur kebudayaan yang sama dalam setiap taraf evolusi yang sama. Masing-masing negara mampu untuk menciptakan motif cerita rakyat sendiri-sendiri. Hal ini memungkinkan adanya motif cerita rakyat yang sama dari beberapa negara. Teori psikoanalisa melihat bahwa persamaan mite-mite di berbagai tempat bukan karena penyebaran melainkan disebabkan oleh penemuan-penemuan yang berdiri sendiri. Mite-mite itu dapat mirip satu sama lainnya karena adanya kesadaran bersama yang terpendam (collective unconscius) pada setiap manusia yang diwarisi secara biologis. Kesadaran bersama ini berupa mimpi yang bertema universal. Inilah yang memungkinkan ada banyak persamaan di dalam mite-mite dari berbagai bangsa. Dalam pandangan teori Euhemerisme yang disampaikan oleh Euhemerus, manusia menciptakan para dewanya berdasarkan wajah dirinya sendiri. Menurut dia, para dewa dari mitologi pada hakekatnya adalah manusia yang didewakan, dan mite sebenarnya dalah kisah nyata orang-orang yang pernah hidup, namun kisah itu telah mengalami distorsi. Kemungkinan poligenesis terlihat pada mite-mite dari luar pulau Jawa, terutama dari daerah-daerah yang kurang disentuh oleh agama Hindu-Budha sebagaimana ditemukan dalam mite Nias tentang sejarah kedatangan leluhur marga-marga orang Nias di pulau Nias.

Berikut ini merupakan kisah yang dapat ditemukan dalam mitologi Nias.

Menurut mitologi Nias, alam serta seluruh isinya adalah ciptaan Lowalangi. Langit yang diciptakannya berlapis sembilan. Setelah selesai menciptakan semua itu, beliau kemudian menciptakan satu pohon kehidupan yang disebut tora’a. Pohon itu kemudian berbuah dua buah. Setelah dierami oleh seekor laba-laba emas ciptaan Lowalangi, menetaslah sepasang dewa pertama di alam semesta. Salah seorang keturunan sepasang dewa tersebut bernama Sirao. Sirao kemudian menjadi raja di langit lapisan pertama. Letak lapisan ini paling dekat dengan bumi. Sirao mempunyai sembilan orang putra. Di antara kesembilan orang putra Sirao, timbul pertentangan untuk merebut singgasana. Untuk mencegah persoalan itu, Sirao mengadakan sayembara ketangkasan menari di atas mata sembilan tombak, yang dipancangkan di suatu lapangan di muka istana. Sayembara itu ternyata dimenangkan oleh putra bungsunya, bernama Luo Mewona. Kebetulan sekali putra bungsunya itu adalah putra yang paling dikasihi orang tuanya dan juga sangat menghormati rakyatnya. Hal ini karena ia memiliki sifat-sifat yang rendah hati, walaupun sebenarnya ia adalah seorang yang gagah perkasa dan sangat bijaksana.

Untuk menentramkan kedelapan putranya yang lain, Sirao kemudian mengabulkan permohonan mereka untuk dinidadakan (diturunkan) ke tanoniha atau tanah manusia, yang merupakan nama asli Pulau Nias. Dari kedelapan putra Sirao itu, empat orang dapat diturunkan dengan selamat, sehingga dapat menjadi leluhur mado-mado atau marga-marga orang Nias zaman sekarang.

Empat orang putra Sirao yang lain kurang beruntung. Mereka mengalami kecelakaan sewaktu proses nidada, sehingga tidak dapat mendarat dengan wajar di bumi Nias untuk menjadi leluhur orang Nias. Salah seorang dari mereka menembus bumi dan menjelma menjadi ular besar yang disebut Da’o Zanaya Tano Sisagoro, Dao Zanaya Tabo Sebolo, yang berarti dialah yang menjadi penadah bumi. Jika timbul perang dan ada darah manusia yang merembes ke dalam tanah, sehingga mengenai tubuhnya, hal ini akan membuatnya sangat marah. Ia akan menggoyang-goyangkan tubuhnya, sehingga timbullah gempa bumi. Untuk menghentikan goncangan bumi, orang Nias akan berseru, “Biha Tuha! Biha Tuha!” yang artinya “Sudah nenek! Sudah nenek!” Ucapan itu diserukan dengan maksud untuk menyatakan kepada ular raksasa itu bahwa mereka telah insaf dan tidak akan saling membunuh lagi.

Putra yang lain bernama Gozo Tuhazangarofa. Waktu diturunkan ke bumi, rantainya putus sehingga ia tercebur ke dalam sungai untuk selanjutnya menjadi dewa sungai. Ia menjadi pujaan para nelayan karena ia adalah penguasa ikan-ikan.

Putra Sirao yang lain lagi, Lakindrolai Sitambalina. Ketika dia diturunkan ke bumi Nias, dia tidak jatuh ke bawah. Dia melayang terbawa angin dan tersangkut di pohon. Dia menjelma menjadi Bela Hogugeu, yaitu dewa hutan yang menjadi pujaan para pemburu.

Putra Sirao yang terakhir yang kurang beruntung bernama Sifuso Kara. Ia pada waktu diturunkan ayahnya ke bumi Nias jatuh ke daerah berbatu-batu di daerah Laraga sekarang, dan menjadi leluhur orang-orang gaib yang sakti dan kebal.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s